Panggung seumur jagung seni, budaya dan media propaganda
Tjahjawulan, lndah; Chotimah, Chusnul
Masa pendudukan Jepang memberi pengalaman kreatif agak berbeda bagi seniman dan budayawan Indonesia. Mereka mendapat peluang yang agak luas untuk berkreasi dan berekspresi sehingga berkembang karya-karya sastra, sandiwara, film, dan lain-lain. Selain seniman dan budayawan lama dari zaman kolonial Belanda, tampil kelompok "baru" seperti Usmar Ismail, Sanusi Pane, Agus Djajasuminta-untuk menyebut beberapa nama. Pembentukan Keimin Bunka Shidosho atau Pusat Kebudayaan seperti "menjamin" bahwa para seniman Indonesia dapat terus berkarya meskipun pemimpin lembaga itu tetap berada di tangan orang Jepang. Sistem pendidikan pada masa pendudukan militer Jepang menghapus sekat-sekat sosial sehingga semua kalangan masyarakat bisa bersekolah tanpa melihat kelas sosialnya. Aspek seni-budaya masuk dalam kurikulum sekolah dengan menonjolkan kebudayaan Jepang seperti senam taisho, baris-berbaris, pengenalan pakaian kimono dan pelajaran merangkai bunga atau ikebana. Dengan demikian rakyat Indonesia diharapkan mengenal lebih mendalam kebudayaan Jepang. Meskipun semua kebijakan itu untuk kepentingan propaganda dan kebutuhan perang, banyak peluang dan pengalaman berharga dimanfaatkan masyarakat Indonesia.
Detail Information
- Publisher
- Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Direktorat Sejarah
- Tahun
- 2019
- Bahasa
- id
- Last Updated
- 2024-10-16T00:46:57Z
Subjects / Keywords
Akses Dokumen
Hak Cipta & Lisensi
Konten ini bersumber dari Repositori Institusi Kemendikdasmen.
Hak cipta dimiliki oleh institusi pencipta karya. Dilisensikan di bawah Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International (CC BY-NC 4.0).
Metadata di-harvest melalui protokol OAI-PMH sesuai SK Sekjen Kemendikbudristek No. 18/M/2022.
Karya Umum
Filsafat
Agama
Ilmu-ilmu Sosial
Bahasa
Ilmu-ilmu Murni
Ilmu-ilmu Terapan
Kesenian, Hiburan, dan Olahraga
Kesusastraan
Geografi dan Sejarah