Studi tentang sosial budaya masyarakat daerah perbatasan: studi kasus masyarakat Pulau Marore Kabupaten Kepulauan Sangihe
Ulaen, Alex J.; Nugrahini, Paulina; Setiawan, Christian; Dukalang, Asrullah; Alinabur, Alinabur
Studi tentang Sosial Budaya Masyarakat Daerah Perbatasan: Studi Kasus Masyarakat di Pulau Marore Kabupaten Kepulauan Sangihe ini merupakan bagian dari kajian ekspresi keragaman budaya dibiayai oleh Balai Pelestarian Njlai Budaya
Manado. Studi ini mencoba memahami kehidupan pendukung tradisi bahari di Nusa Utara dan khususnya warga Marore di wilayah perbatasan antar negara (Indonesia Filipina). Studi ini dilakukan dengan menggunakan pendekatan etnohistori meskipun tidak menutup penggunaan pendekatan lainnya yang lazim dalam kajian humaniora.
Beberapa temuan dalam studi ini antara lain, tradisi bahari yang didukung warga nusa utara memiliki ekspresi budaya yang terekam dalam pengetahuan tentang musim, perbintangan, klasifikasi dan orientasi geografis, dan mata angin secara tradisional. Pengetahuan tersebut menjadi pedoman ketika mereka melaut dan menjalankan tradisi badaseng.
Masuknya unsur budaya baru seperti penggunaan mesin sebagai penggerak perahu, telah menggeser penggunaan perahu sampan secara tradisional, sekaligus mempengaruhi ilmu pengetahuan dan unsur budaya-nir-benda dari dunia kognisi warga.
Praktek badaseng menghasilkan diaspora warga pendukung tradisi bahari tidak sebatas wilayah tanah air tetapi juga sampai ke wilayah negara tetangga. Praktek melaut dengan tradisi badaseng ini mendasari warga melakukan aktivitas melintasi batas dua negara dan berdiaspora di Mindanao.
Kenyataan tersebut mendorong pemerintah kedua negara sepakat mengadakan perjanjian lintas batas yang isinya mengatur repatriasi, legalisasi, dan naturalisasi warga Nusa Utara dan khususnya Marore yang menetap di wilayah Filipina.
Manado. Studi ini mencoba memahami kehidupan pendukung tradisi bahari di Nusa Utara dan khususnya warga Marore di wilayah perbatasan antar negara (Indonesia Filipina). Studi ini dilakukan dengan menggunakan pendekatan etnohistori meskipun tidak menutup penggunaan pendekatan lainnya yang lazim dalam kajian humaniora.
Beberapa temuan dalam studi ini antara lain, tradisi bahari yang didukung warga nusa utara memiliki ekspresi budaya yang terekam dalam pengetahuan tentang musim, perbintangan, klasifikasi dan orientasi geografis, dan mata angin secara tradisional. Pengetahuan tersebut menjadi pedoman ketika mereka melaut dan menjalankan tradisi badaseng.
Masuknya unsur budaya baru seperti penggunaan mesin sebagai penggerak perahu, telah menggeser penggunaan perahu sampan secara tradisional, sekaligus mempengaruhi ilmu pengetahuan dan unsur budaya-nir-benda dari dunia kognisi warga.
Praktek badaseng menghasilkan diaspora warga pendukung tradisi bahari tidak sebatas wilayah tanah air tetapi juga sampai ke wilayah negara tetangga. Praktek melaut dengan tradisi badaseng ini mendasari warga melakukan aktivitas melintasi batas dua negara dan berdiaspora di Mindanao.
Kenyataan tersebut mendorong pemerintah kedua negara sepakat mengadakan perjanjian lintas batas yang isinya mengatur repatriasi, legalisasi, dan naturalisasi warga Nusa Utara dan khususnya Marore yang menetap di wilayah Filipina.
Detail Information
- Publisher
- Balai Pelestarian Nilai Budaya Manado
- Tahun
- 2012
- Bahasa
- id
- Last Updated
- 2024-06-04T07:02:52Z
Subjects / Keywords
Akses Dokumen
Hak Cipta & Lisensi
Konten ini bersumber dari Repositori Institusi Kemendikdasmen.
Hak cipta dimiliki oleh institusi pencipta karya. Dilisensikan di bawah Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International (CC BY-NC 4.0).
Metadata di-harvest melalui protokol OAI-PMH sesuai SK Sekjen Kemendikbudristek No. 18/M/2022.
Karya Umum
Filsafat
Agama
Ilmu-ilmu Sosial
Bahasa
Ilmu-ilmu Murni
Ilmu-ilmu Terapan
Kesenian, Hiburan, dan Olahraga
Kesusastraan
Geografi dan Sejarah