Hasil pendokumentasian notasi gending-gending lelambatan klasik pegongan daerah Bali
I Nyoman, Rembang
Gambelan Bali khususnya pegongan merupakan suatu khasanah budaya Bali yang erat sekali kaitannya dengan kegiatan upacara Agama Hindu dan berfungsi sebagai sarana penunjang jalannya upacara Yadnya. Gending-gending yang dikatagorikan gending lelambatan klasik, berasal dari gending-gending gambelan gong gede atau gong gangsa jongkok.
Banyak orang berpendapat, bahwa gending-gending tersebut bernafaskan Agama. karena mungkin pada awal mula terciptanya diilhami oleh suasana keagamaan. Maka setiap gending lelambatan klasik diperdengarkan, orang yang mendengar merasa dirinya seakan-akan sedang berada di dalam suasana upacara yadnya.
Walaupun kini gambelan gong gede telah sebahagian besar berubah bentuk menjadi bentuk gong kebyar, namun gending-gending tersebut tidak berubah ciri khasnya bila diperdengarkan menggunakan gambelan gong kebyar. Suasana yadnya yang megah dan agung tetap terasa dan membawa orang akan terbayang dengan kedamaian masa purba. Oleh karenanya gending-gending tersebut hingga kini diperlukan sebagai pendukung upacara yadnya.
Jenis gending lelambatan ini sebenarnya banyak sekali jumlahnya, namun melihat keadaannya dewasa ini yang semakin jarang muncul menimbulkan rasa khawatir akan kepunahannya. Di beberapa desa tampak adanya suatu usaha pelestarian lagu-lagu tersebut, namun keadaannya sekarang tidak lebih dari lima sampai sepuluh lagu yang masih mampu diingat oleh penabuh di desa-desa.
Banyak orang berpendapat, bahwa gending-gending tersebut bernafaskan Agama. karena mungkin pada awal mula terciptanya diilhami oleh suasana keagamaan. Maka setiap gending lelambatan klasik diperdengarkan, orang yang mendengar merasa dirinya seakan-akan sedang berada di dalam suasana upacara yadnya.
Walaupun kini gambelan gong gede telah sebahagian besar berubah bentuk menjadi bentuk gong kebyar, namun gending-gending tersebut tidak berubah ciri khasnya bila diperdengarkan menggunakan gambelan gong kebyar. Suasana yadnya yang megah dan agung tetap terasa dan membawa orang akan terbayang dengan kedamaian masa purba. Oleh karenanya gending-gending tersebut hingga kini diperlukan sebagai pendukung upacara yadnya.
Jenis gending lelambatan ini sebenarnya banyak sekali jumlahnya, namun melihat keadaannya dewasa ini yang semakin jarang muncul menimbulkan rasa khawatir akan kepunahannya. Di beberapa desa tampak adanya suatu usaha pelestarian lagu-lagu tersebut, namun keadaannya sekarang tidak lebih dari lima sampai sepuluh lagu yang masih mampu diingat oleh penabuh di desa-desa.
Detail Information
- Publisher
- Proyek Pengembangan Keseninan Bali, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan
- Tahun
- 1985
- Bahasa
- id
- Last Updated
- 2023-12-22T03:46:50Z
Subjects / Keywords
Akses Dokumen
Hak Cipta & Lisensi
Konten ini bersumber dari Repositori Institusi Kemendikdasmen.
Hak cipta dimiliki oleh institusi pencipta karya. Dilisensikan di bawah Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International (CC BY-NC 4.0).
Metadata di-harvest melalui protokol OAI-PMH sesuai SK Sekjen Kemendikbudristek No. 18/M/2022.
Karya Umum
Filsafat
Agama
Ilmu-ilmu Sosial
Bahasa
Ilmu-ilmu Murni
Ilmu-ilmu Terapan
Kesenian, Hiburan, dan Olahraga
Kesusastraan
Geografi dan Sejarah