Abdul Muis
Azmi, Azmi
Abdul Muis adalah salah seorang daripada pahlawan-pahlawan bangsa tersebut. Beliau telah menyerahkan waktu-waktunya yang paling berharga untuk berjuang membela nasib bangsanya yang ditindas dan diperas oleh keserakahan yang ingin mengeruk keuntungan ta11pa batas. Pada setiap kesempatan, melalui berbagai cara beliau membukakan borok penjajahan yang menghinggapi sekujur tubuh bangsanya yang makin lama makin lemah tidak bertenaga karena kekurangan darah kekurangan makan. Melalui surat kabar, baik yang: diasuhnya sendiri maupun tidak, melalui rapat umum, melalui Volksraad Muis tidak berhenti membicarakan penderitaan yang dialami bangsanya dan menuntut perubahan. Bahkan ketika kemudian beliau mengundurkan diri dari Serikat Islam untuk menghindari perpecahan antara dirinya dengan pimpinan yang lain mengenai taktik perjuangan, Muis melanjutkan perjuangannya melalui roman-roman yang dikarangnya dengan misi perbaikan hidup. Melalui roman-roman tersebut Muis mengritik feodalisme, adat yang tidak sesuai lagi dengan jamannya. Tapi beliau tidak pula lupa diri mau membuang seluruh selubung adat dan tradisi dengan mengingatkan "Barat adalah Barat, Timur adalah Timur" hingga tidak mungkin bagi kita menyalin saja apa yang berasal dari Barat untuk diselubungkan pada diri sendiri.
Hampir tidak ada yang terluput dari pengamatan matanya sampai-sampai kepada si kromo di pedalaman yang harus didenda dan dihukum karena ayam atau ternaknya memasuki karangan tuan tanah atau priyayi. Tidaklah heran kalau pada waktu itu beliau mendapat julukan sebagai "Napoleon Sarikat Islam" karena keberaniannya menghadapi pemerintah.
Banyak orang mengira, terutama lawan-lawan politiknya bahwa Abdul Muis adalah lembek dan suka bekerja sama dengan Belanda dalam perjuangannya. Hal ini sebenarnya terletak pada perbedaan taktik saja. Muis tidak menyukai tindakan kekerasan dan radikal karena mengira bahwa jalan itu tidak akan memperdekat bangsanya pada tujuan. Muis telah melihat bagaimana kekerasan telah ditindas Belanda satu per satu mulai sejak pertama kali mereka menginjakkan kakinya di Indonesia.
Hampir tidak ada yang terluput dari pengamatan matanya sampai-sampai kepada si kromo di pedalaman yang harus didenda dan dihukum karena ayam atau ternaknya memasuki karangan tuan tanah atau priyayi. Tidaklah heran kalau pada waktu itu beliau mendapat julukan sebagai "Napoleon Sarikat Islam" karena keberaniannya menghadapi pemerintah.
Banyak orang mengira, terutama lawan-lawan politiknya bahwa Abdul Muis adalah lembek dan suka bekerja sama dengan Belanda dalam perjuangannya. Hal ini sebenarnya terletak pada perbedaan taktik saja. Muis tidak menyukai tindakan kekerasan dan radikal karena mengira bahwa jalan itu tidak akan memperdekat bangsanya pada tujuan. Muis telah melihat bagaimana kekerasan telah ditindas Belanda satu per satu mulai sejak pertama kali mereka menginjakkan kakinya di Indonesia.
Detail Information
- Publisher
- Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Sejarah Nasional
- Tahun
- 1984
- Bahasa
- id
- Last Updated
- 2023-11-16T04:26:28Z
Subjects / Keywords
Akses Dokumen
Hak Cipta & Lisensi
Konten ini bersumber dari Repositori Institusi Kemendikdasmen.
Hak cipta dimiliki oleh institusi pencipta karya. Dilisensikan di bawah Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International (CC BY-NC 4.0).
Metadata di-harvest melalui protokol OAI-PMH sesuai SK Sekjen Kemendikbudristek No. 18/M/2022.
Karya Umum
Filsafat
Agama
Ilmu-ilmu Sosial
Bahasa
Ilmu-ilmu Murni
Ilmu-ilmu Terapan
Kesenian, Hiburan, dan Olahraga
Kesusastraan
Geografi dan Sejarah