Kisah Airlangga : rumah peradaban Lamongan
Nastiti, Titi Surti
Dari data historis diketahui bahwa Airlangga menjadi raja bukan karena ia adalah anak raja yang berkuasa. Ia adalah keponakan sekaligus menantu Raja Dharmawangśa Teguh, raja Matarām Kuna yang gugur karena serangan musuh. Ia pun hanya separuh Jawa, ibunya, Mahendradatta, adalah adik Dharmawangśa Teguh, namun ayahnya adalah Udayana, Raja Bali. Dengan diterimanya Airlangga menjadi raja, memperlihatkan bahwa masyarakat pada masa itu telah terbuka dan menerima adanya pluralisme. Pluralisme ini merupakan identitas lokal masyarakat Lamongan yang sudah ada sejak masa Airlangga dan mungkin sebelumnya, yang dibina terus sampai kini. Airlangga menjadi raja karena permintaan rakyat melalui para pendeta. Kedekatan Airlangga dengan para agamawan telah dibina semenjak ia masih dalam pelarian. Hal ini mencerminkan adanya demokrasi dimana suara rakyat didengar dan kaum agamawan bisa menjadi jembatan antara rakyat dengan pemerintah. Demokrasi ini juga terlihat dari isi prasasti yang dikeluarkan Airlangga selalu menuliskan semua nama penduduk desa yang hadir dalam upacara penetapan daerah perdikan.
Detail Information
- Publisher
- Pusat Penelitian Arkeologi Nasional, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
- Tahun
- 2020
- Bahasa
- id
- Last Updated
- 2021-03-08T06:18:22Z
Subjects / Keywords
Akses Dokumen
Hak Cipta & Lisensi
Konten ini bersumber dari Repositori Institusi Kemendikdasmen.
Hak cipta dimiliki oleh institusi pencipta karya. Dilisensikan di bawah Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International (CC BY-NC 4.0).
Metadata di-harvest melalui protokol OAI-PMH sesuai SK Sekjen Kemendikbudristek No. 18/M/2022.
Karya Umum
Filsafat
Agama
Ilmu-ilmu Sosial
Bahasa
Ilmu-ilmu Murni
Ilmu-ilmu Terapan
Kesenian, Hiburan, dan Olahraga
Kesusastraan
Geografi dan Sejarah